Ning Zahra Dalam Acara Silanas Qiraati ke 9 di NTB

 










Enam Tanda-Tanda Cinta Dunia

Hidup manusia pada hakikatnya adalah untuk beribadah, bukan untuk mencari kesenangan dunia. Jika manusia memiliki tujuan dunia semata maka ia akan mengalami kelelahan yang tiada habisnya.

Berikut adalah tanda-tanda manusia yang mengutamakan dunia (hubbud dunya).:

  1. Tujuan dalam semua kegiatannya adalah dunia, bukan ibadah. 
  2. Melalaikan ibadah dan mendahulukan dunia.
  3. Mengumpulkan dunia dengan segala cara. Maka tidak memperdulikan cara halal atau haram. Di sini faktor lingkungan kadang menentukan. 
  4. Pelit atau kikir.
  5. Serakah atau tamak yaitu ingin merampas hak orang lain
  6. Tidak bisa bersyukur. Orang yang cinta dunia hidupnya gelisah karena tidak menyusukuri yang dimiliki.

Tentang KH. Ma’mun Mukhtar Kajen

 

KH. Ma’mun Mukhtar atau Yi Mun lahir di Kajen pada tanggal 1 Juni 1945 dari pasangan KH. Mukhtar Afif dan Nyai Thohiroh, Yi Mun merupakan anak kedelapan dari 9 bersaudara. Kesembilan anak itu ialah Ibu Khofsoh, Ibu Asma’ Hambali (Pati), Kiai Mahfudh (Sarang), Kiai Abdul Barri, Ibu Sholihah (Kajen), K.H. Ma’mun Mukhtar (Kajen), Ibu Mu’anah.

Masa kecil Yi Mun sedikit berbeda dengan masa kecil anak-anak pada umumnya. Pada masa itu ayah beliau termasuk salah satu Kiai Kajen yang diperhitungkan para penjajah dapat merusak stabilitas pemerintahan Hindia Belanda. Maka tak heran jika terkadang beliau harus ikut serta bersembunyi bersama keluarganya dari kejaran para penjajah. Namun terlepas dari ketegangan masa kecil, Yi Mun kecil tetaplah seorang bocah yang suka bermain bersama teman sebaya. Biasanya beliau suka main di sungai untuk berenang ataupun menjala ikan. Selain itu beliau sangat gemar dengan sepak bola, sampai-sampai beliau rela memanjangkan rambutnya demi mengikuti persepsi beliau bahwa pemain sepak bola itu rambutnya gondrong. Kebiasaan menonton bola ini terus berlangsung hingga usia tua. Meski begitu, Yi Mun tidak pernah mengidolakan satu klub bola tertentu karena bagi beliau yang mengasyikkan itu menonton pertandingan bola bukan siapa atau klub apa pemainnya.

K.H Ma’mun Mukhtar mengenyam seluruh pendidikan formal di PIM (Perguruan Islam Mathali’ul Falah). Selain itu Yi Mun juga belajar secara tidak formal kepada masyayikh Kajen seperti Kiai Thohir Nawawi (ayah dari KH. Mu’adz Thohir), Kiai Muhammadun Abdul Hadi (pendiri Pondok APIK) dan Kiai Mawardi Waturoyo (pengasuh Pesantren Bustanul Tholibin). Yi Mun juga mengaji fikih secara eksklusif setiap malam selasa kepada Kiai Sahal Mahfudh. Dan untuk belajar al-qur’an, Yi Mun belajar langsung dari ayahanda beliau, KH. Mukhtar Afif.

Yi Mun lulus dari Perguruan Islam Mathali’ul Falah pada saat beliau berumur 17 tahun. Meski begitu, beliau sudah mulai mengajar di tempat mengajar al-qur’an (kelak menjadi Pondok Buludana) peninggalan ayahnya sejak umur 14 tahun. Tepatnya setelah sang ayah meninggal dunia pada tahun 1954. Sejak saat itu, kepengasuhan Pesantren Mabda’ul Huda (Buludana) secara otomatis jatuh ke tangan Yi Mun karena seluruh saudara laki-lakinya telah bekeluarga dan bermukim diluar Kajen. Praktis dengan tanggung jawab barunya ini pendidikan Yi Mun pun “hanya” menimba ilmu di tanah kelahirannya sendiri yaitu Kajen.

Pada tanggal 16 Pebruari 1976 Yi Mun akhirnya menemukan belahan jiwanya, yakni Nyai Hj. Musri’ah yang masih terhitung kerabat sendiri dari pihak ayah. Dari pernikahan tersebut, Mbah Mun dikaruniai 1 orang putra dan 9 orang putri, yaitu:

Alfi Inayatin
Istiqomatus Sa’diyah
Nuzhatin Fu’adiyah
Ainul ‘Athiyyah
Durrohtun Muhassonah
Nihayatul Muhtaj
M. Faiddlurrahman
Nur Laili Fadhilah
Faiqoh Noor Fu’adi
Atiqoh (meninggal ketika lahir)

Yi Mun meninggal pada tanggal 20 Ramadhan 1434 H/ 28 Juli 2013 M. Sebelumnya pada tanggal 14 Ramadhan 1434 H/ 21 Juli 2013 M. Yi Mun dilarikan ke Rumah Sakit Islam Pati karena tiba-tiba kesehatannya menurun drastis. Namun kemudian dirujuk ke Rumah Sakit KSH Pati, sehari kemudian Yi Mun dipindah lagi ke sebuah Rumah Sakit spesialis syaraf di Demak hingga akhirnya wafat di tempat tersebut. Semoga Yi Mun mendapatkan tempat terbaik di sisiNya.

Sumber: Nuansa Pati

Kisah Mbah Madun Kajen Tidak Mau Diantar

 


Salah satu kelebihan mbah Muhammadun adalah beliau sangat wara', yaitu menghindari perkara halal yang mencurigakan. Pernah suatu hari beliau pulang dari pengajian berjalan kaki bersama beberapa muridnya, lalu lewatlah seorang saudagar di Kajen, H. Yazid (alm.) mengendarai vespa. H Yazid menawari mbah Madun untuk mengantar beliau ke rumahnya, tapi Mbah Madun menolaknya. Dirayupun beliau tidak mau.

Setelah orang tersebut lewat seorang bertanya kepada beliau, mengapa beliau tidak bersedia diantar. Mbah Madun menjawab: "Saya tau orang itu yang kaya raya adalah istrinya, saya tidak yakin orang itu ketika memakai vespa sudah izin dari istrinya, apalagi izin untuk memboncengkan saya". Beliau mengingatkan kepada santri tentang  hukum fiqh yang sering dilupakan orang yaitu ketika kita meminjam sesuatu maka kita hanya boleh menggunakannya sesuai akad pinjaman. Kita pinjam motor utk dinaiki maka hanya boleh dinaiki, kalau untuk keperluan lain seperti memboncengkan orang maka perlu izin lagi dari yang meminjami. Begitu kata fiqh.

Di Kajen, Orang Sholat Ndak Sholat ya Mati...

 

Kisah KH Moh. Ma'mun Muzayyin tercinta.
Abu Mujiburrahman.
Lahul Fatihah,..

Ini cerita tentangg almarhum KH Moh. Ma'mun Muzayyin yang kita kenal nyantai dan biasa bercanda. Evennya adalah ketika kemah bakti Madrasah Matholi'ul Falah (tahunnya lupa), bertempat di lapangan desa Purwodadi Centong, Kecamatan Margoyoso. Ada alasan tertentu desa ini dipilih sebagai tempat kegiatan kemah madrasah. di antaranya faktor sejarah desa tersebut dikenal sebagai sentra PKI yang masih mewarnai hingga sekarang, warna merah (abangan) masih dinilai dominan.

Di salah satu acara kemah tersebut adalah pengajian umum, beliau almarhum yang mendapat tugas mengisi. Dalam salah salah satu penyampaian beliau yang disiarkan lewat corong speaker dan terdengar ke seluruh penjuru desa:
"Kulo mireng teng mriki niku angker nggih? sanjange teng mriki tiyang ingkang nindaki sholat bakal pejah, nggih? leres ngaten?" (saya dengar desa ini angker ya? jadi pendapat umum disini, warga yg mengerjakan sholat akan mati? bener begitu ya?)

Lanjut beliau:
"Nanging takseh kalah kaliyan dusun kulo Kajen, langkung angker maleh, teng Kajen niku tiyang ingkang sholat utawi mboten, nggih pejah,... kek kek kek kek (disambung tawa khas beliau) (tapi masih kalah dengan desa saya Kajen, lebih angker lagi, di Kajen, orang sholat ndak sholat ya mati,...)

# sekelumit gambaran kiprah kiyai desa membimbing masyarakatnya #

DON'T MISS

Berita, Podcast, Video, HMPS
© all rights reserved
made with by templateszoo